Monday, October 28, 2019

Karang Gigi





Karang Gigi
Cara menghilangkan karang gigi dengan scaling
Karang gigi adalah plak yang mengeras di permukaan gigi. Karang gigi biasanya ditemukan di atas garis gusi. Ketika disentuh menggunakan lidah, karang gigi cenderung kasar.
Plak yang masih tipis dapat dihilangkan dengan rutin menyikat gigi dan membersihkan gigi pakai benang (flossing). Namun, lain ceritanya kalau plak sudah tebal dan mengeras.
Plak tebal dan mengeras butuh dihilangkan dengan perawatan khusus yang hanya bisa dilakukan oleh dokter gigi. Dalam dunia medis, prosedur pembersihan karang gigi dinamakan scaling.
Cara membersihkan karang gigi satu ini dilakukan dengan alat yang disebut ultrasonic scaler. Alat khusus ini bekerja merontokkan karang yang ada di sela-sela gigi dan di bagian gari gusi. Kedua bagian ini biasanya sulit dijangkau dengan sikat gigi.
Scaling gigi idealnya dilakukan setiap enam bulan sekali. Dengan scaling, karang gigi yang sangat keras sekali pun dapat hilang. Meski begitu, ada orang yang mungkin butuh lebih sering bolak-balik scaling karena kerusakan gigi yang dialaminya sudah terlanjur parah.
Namun yang penting juga dipahami adalah risiko efek sampingnya. Proses scaling dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti perdarahan, gusi bengkak dan nyeri. Hal ini terjadi karena gusi dan gigi yang berkarang masih menyesuaikan diri dengan proses scaling tersebut.
Akan tetapi Anda tak perlu khawatir. Efek samping ini umumnya dapat mereda segera setelah perawatan selesai dilakukan.
Cara lain menghilangkan karang gigi sendiri di rumah
Scaling adalah cara menghilangkan karang gigi yang paling cepat dan aman. Meski begitu, ada juga cara lainnya supaya karang gigi Anda tidak semakin banyak dan parah.
1. Sikat gigi dua kali sehari
Menyikat gigi secara teratur masuk dalam daftar pertama sebagai cara menghilangkan karang gigi. Terutama untuk karang gigi yang masih berwarna putih.
Para ahli menganjurkan setiap orang menyikat gigi sebanyak dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Supaya benar-benar bersih, sikatlah gigi Anda selama dua menit.
Kebanyakan orang sering kali menyikat gigi sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan detik. Padahal, menyikat gigi terlalu cepat tidak efektif karena kotoran dan plak masih menempel di permukaan gigi.
Melansir WebMD, Richard H. Price, DMD, penasihat konsumen untuk American Dental Association, menyarankan Anda untuk menyikat selama 30 detik untuk masing-masiing empat bagian gigi (samping kanan, samping kiri, depan, dalam). 
Jika dilakukan dengan benar, total waktu yang akan Anda habiskan untuk menyikat gigi tepat dua menit.
2. Sikat gigi dengan cara yang benar
Meski rajin menyikat gigi setiap hari, hasilnya akan sia-sia kalau tekniknya salah. Ayo coba cek lagi, sudah benarkah teknik menyikat gigi Anda?
Sikatlah gigi Anda dengan gerakan memutar dari atas ke bawah. Pastikan Anda menyikat setiap bagian gigi sehingga plak dan sisa makanan yang menempel akan hilang. Mulai dari gigi geraham atau atau pada sisi belakang di salah satu sisi mulut.
Pastikan Anda tidak menyikat terlalu keras atau menekan gigi. Kebiasaan ini malah akan mengikis permukaan luar gigi (enamel) yang jadi pemicu gigi sensitif. Jadi, cara membersihkan karang tidak harus dengan menyikat gigi sekuat tenaga.
3. Bersihkan gigi dengan benang
Gigi putih bersih bebas noda adalah dambaan setiap orang. Namun untuk mendapatkannya tidak cukup hanya dengan menyikat gigi dua kali sehari.
Menyikat gigi hanya membersihkan permukaan gigi saja, tidak sampai menjangkau bagian terdalam sela-sela gigi. Padahal, kebanyakan plak lebih sering ditemukan di bagian sela-sela gigi atau gusi.
Maka, cara lain yang bisa Anda lakukan untuk menghilangkan plak pemicu karang adalah membersihkan gigi dengan benang (dental floss). Benang gigi efektif untuk membersihkan sela-sela dan bagian terdalam gigi yang sulit dijangkau oleh blu sikat.
Rutin membersihkan gigi dengan benang juga dapat mengurangi risiko penyakit gusi dan bau mulut.
Membersihkan gigi dengan benang idealnya dilakukan setelah menyikat gigi.
Geseklah benang di sela-sela gigi secara perlahan. Hindari menggesek benang ke sela gigi dan gusi terlalu keras. Bukanya bersih, hal tersebut malah dapat melukai gusi dan membuatnya jadi berdarah.
4. Bersihkan lidah
Tahukah Anda bahwa 50 persen bakteri dalam mulut ternyata bersarang di permukaan lidah? Maka itu, membersihkan lidah juga perlu jadi bagian dari rutinitas kita sehari-hari.
Campuran air liur dan bakteri dapat membentuk plak di atas permukaan lidah. Sayangnya, plak ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan membilasnya dengan air atau berkumur pakai obat kumur.
Cara terbaik dan paling efektif untuk menghilangkan plak yang menempel di permukaan lidah adalah dengan menyikat lidah. Anda bisa menggunakan sikat khusus lidah yang banyak dijual di pasaran.
Gosoklah lidah Anda dari pangkal lidah paling dalam dan tarik perlahan ke depan dalam satu gerakan. Jangan digosok bolak-balik. Ulangi cara ini beberapa kali sampai lidah Anda benar-benar bersih atau kesat.
Jangan lupa juga untuk membersihkan bagian samping lidah. Setelah itu, berkumurlah dengan air bersih.
5. Pilih sikat dan pasta gigi yang tepat
Memakai sikat dan pasta gigi yang benar dapat semakin memuluskan cara Anda menghilangkan karang gigi.
Pilihlah sikat gigi yang memiliki bulu halus dan lembut. Sesuaikan kepala gigi dengan lebar mulut Anda. Jadi, pastikan bila kepala sikat tidak terlalu kebesaran atau kekecilan.
Penting juga untuk memilih sikat yang gagangnya nyaman ketika digenggam. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah untuk menyikat gigi dengan teknik yang benar.
Untuk pasta giginya, pilih yang mengandung fluoride. Senyawa satu ini dapat membantu membersihkan plak penyebab karang gigi. Tak hanya itu. Fluoride juga efektif melindungi dan menjaga permukaan gigi dari kerusakan.
6. Gunakan obat kumur
Berkumur pakai mouthwash alias obat kumur juga jadi cara tepat untuk menghilangkan karang gigi.
Obat kumur dapat membantu merontokkan plak, kotoran, dan sisa-sisa makanan yang menempel di permukaan gigi.
Bonusnya, obat kumur juga dapat membantu menyegarkan aroma napas Anda. Dengan begitu, Anda jadi terhindar dari risiko bau mulut.
Saat ini sudah banyak tersedia beragam produk obat kumur di pasaran. Sebelum membelinya, bacalah dengan cermat dan teliti komposisi bahan kimia di dalamnya, ya.
Hindari obat kumur yang mengandung alkohol karena dapat menyebabkan mulut kering. Pastikan pula bahwa produk obat kumur yang Anda gunakan telah terdaftar di Badan POM agar menjamin keamanannya.
Berkumurlah pakai obat kumur setelah Anda menyikat gigi. Gunakan obat kumur sesuai dengan dosis yang ada di petunjuk pemakaian atau yang dianjurkan dokter. Dosis obat kumur yang berlebihan dapat menyebabkan efek samping atau overdosis yang buruk.
7. Berhenti merokok
Anda mungkin sudah sangat bosan dengan peringatan bahaya merokok yang ada di mana-mana. Sayangnya, masih banyak saja orang yang tetap melakukan kebiasaan buruk ini.
Selain menyebabkan gangguan fungsi jantung dan paru-paru, merokok ternyata juga dapat menyebabkan masalah gigi dan mulut. Salah satunya, karang gigi.
Kandungan bahan kimia dalam rokok dapat memicu pembentukkan karang gigi yang semakin banyak. Bahkan, karang gigi orang yang merokok cenderung berwarna hitam pekat ketimbang Anda yang tidak merokok.
Itu kenapa berhenti merokok merupakan cara tepat untuk membantu menghilangkan karang gigi. Mulailah dengan perlahan dan jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau kerabat dekat. Dukungan dari orang-orang terkasih dapat membantu membulatkan tekad Anda untuk berhenti merokok.
Bila semua cara sudah Anda lakukan tapi tidak memunculkan hasil positif, berobat ke dokter solusinya. Dokter dapat merekomendasikan sejumlah perawatan tertentu yang membantu Anda untuk berhenti merokok.
8. Banyak minum air putih
Ingin karang gigi hilang dan tidak bertambah parah? Minum air putih bisa jadi solusi. Banyak minum air dapat membantu meningkatkan produksi air liur di dalam mulut.
Air liur berfungsi untuk menjaga kelembapan mulut dan meluruhkan plak dan sisa-sisa makanan yang ada di permukaan gigi. Enzim yang terkandung dalam air liur juga dapat membantu melawan bakteri penyebab infeksi di mulut.
Bila Anda tidak suka dengan rasa air putih, Anda bisa menyiasatinya dengan cara lain. Tambahkan irisan buah-buahan segar atau rempah dedaunan dalam air putih, seperti lemon, stroberi, kiwi, jahe, dan lain sebagainya.
Sebenarnya tak ada takaran harus berapa banyak Anda minum dalam sehari. Sebab, kebutuhan cairan setiap orang berbeda, tergantung pada usia dan aktivitas fisik yang dilakukan setiap hari.
Pada prinsipnya, minumlah air setiap kali Anda merasa haus. Supaya tidak cepat kembung, lebih baik minum sedikit-sedikit tapi sering.
Cara menghilangkan karang gigi satu ini terbilang murah dan mudah. Jadi, tak ada alasan untuk tidak minum air putih setiap hari.
7. Bijak pilih makanan
Cermat memilih makanan yang Anda makan setiap hari juga jadi salah satu cara menghilangkan karang gigi. Pasalnya, apa yang Anda makan akan memengaruhi perkembangan bakteri dan plak di dalam mulut.
Semakin manis atau asam makanan Anda, semakin banyak pula bakteri berkembang biak di dalam mulut. Bakteri, plak, dan sisa makanan yang dibiarkan terus menumpuk memicu pembentukkan karang gigi.
Itu sebabnya, makanan dan minuman yang manis sebaiknya dibatasi.
Beda karang gigi dengan karies
Masih banyak orang yang menganggap bahwa karang gigi dan karies adalah dua hal yang sama. Padahal, tidak begitu.
Karies gigi adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan kerusakan gigi atau gigi berlubang. Kondisi ini terjadi ketika lapisan terluar gigi yang disebut enamel terkikis dan lama-lama menyebabkan gigi berlubang.
Lubang mungkin akan terus membesar hingga akar gigi. Kondisi ini dapat menyebabkan gigi ngilu, infeksi, dan gigi ompong.
Sementara karang gigi adalah plak yang mengeras. Plak merupakan lapisan lengket yang terdiri dari bakteri, kotoran, dan sisa-sisa makanan yang menempel di permukaan gigi.
Pada awalnya, plak berwarna putih kekuningan. Ketika dibiarkan terus menumpuk di gigi, plak yang tadinya kuning dapat berubah warna menjadi menghitam.
Lama-kelamaan, plak yang menghitam akan tampak seperti batu karang yang menempel pada gigi. Warna karang gigi yang cenderung pekat membuat tampilan gigi menjadi kusam dan tak terawat.
Karang gigi jangan disepelekan
Karang gigi harus segera dibersihkan. Meski tidak membuat sakit, masalah ini tidak boleh disepelekan.
Bila dibiarkan terus menumpuk, plak dapat membuat gusi meradang dan iritasi. Plak juga akan mengeras dari garis gusi dan sela-sela gigi kemudian menyebabkan berbagai masalah gigi lainnya. Salah satunya, gingivitis.
Gingivitis adalah kondisi ketika gusi Anda mengalami peradangan. Kondisi ini dapat membuat gusi sensitif dan mudah berdarah. Bila gingivitis dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, maka akan berlanjut pada penyakit gusi (periodontitis),
Periodontitis terjadi ketika peradangan di gusi berubah menjadi infeksi yang menyebar hingga ke bagian tulang penyokong gigi. Kondisi ini dapat membuat gigi Anda mudah goyah dan bahkan bisa tanggal sendiri.
Permasalahan lain yang dapat timbul akibat karang gigi yang dibiarkan terus adalah bau mulut. Bau mulut dapat muncul karena plak penyebab karang gigi bercampur dengan sisa makanan. Akibatnya, terjadilah pembusukan dalam rongga mulut yang menyebabkan aroma napas Anda tidak sedap.
Di samping itu, warna karang yang cenderung pekat tentu akan membuat gigi Anda terlihat kusam tak terawat. Hal ini tentu akan memengaruhi kepercayaan diri Anda untuk menampilkan senyuman.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Dentomaxillofacial Radiology, Pathology and Surgery menemukan hal yang lain. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa penyakit gusi kronis dapat menyebabkan anemia. Lebih jauh, bakteri penyebab infeksi gusi dapat menyebar dan masuk ke dalam organ-organ tubuh lainnya.
Segera coba berbagai cara menghilangkan karang gigi di atas sebelum terlambat. Kesehatan mulut yang baik juga akan memengaruhi kesehatan tubuh Anda secara menyeluruh.

Pulpa


Image result for pulpa"               
   Diagnosis Penyakit Pulpa dan Kelainan Periapikal Penyakit pulpa dan periapikal Kondisi normal Sebuah gigi yang normal bersifat
(a) asimptomatik dan menunjukkan
(b) respon ringan sampai moderat yang bersifat sementara terhadap stimuli pulpal thermal dan electric, dan
(c) respon segera reda ketika rangsangan tersebut dihilangkan.
(d) Gigi dan bagian perlekatannya tidak menimbulkan reaksi yang menyakitkan saat perkusi dan palpasi. Apakah yang dimaksud penyakit pulpa atau periapikal? Gangguan yang terlibat dalam pulp, atau jaringan periapikal. Klasifikasi penyakit pulpa Pulpitis reversibel Pulpa mengalami inflamasi sejauh rangsangan termal yang menyebabkan respon cepat, tajam, hipersensitif, yang segera mereda ketika stimulus dihilangkan. Pulpitis reversibel bukanlah penyakit tetapi hanya gejala. Jika penyebabnya dihilangkan, pulpa kembali ke kondisi yang tidak terinflamasi dan gejala mereda. Sebaliknya, jika penyebabnya tetap, gejala bisa bertahan, dan inflamasi bisa menjadi lebih luas, dan akhirnya menyebabkan pulpitis ireversibel. Penyebab: setiap iritan yang dapat mempengaruhi pulpa dapat menyebabkan pulpitis reversibel seperti karies, termal, scaling periodontal dan root planing yang dalam. Membedakan pulpitis reversibel dari ireversibel:
2.                  Respon rasa sakit yang tajam terhadap rangsangan termal. Rasa sakit spontan. Pengobatan pilihan: Sedative dressing, atau disebut restorasi sementara dengan pemberian bahan sedatif, seperti zinc oxide. Pulpitis ireversibel Pulpitis ireversibel dapat bersifat akut, sub akut, atau kronis, dan mungkin parsial dan total. Secara klinis, pulpitis ireversibel yang akut bersifat simptomatik, sedangkan kronis yang asimptomatik. Pada tahap ini, perubahan dinamis dalam pulpa selalu terjadi. Pulpitis ireversibel simptomatik Jenis pulpitis ini ditandai dengan rasa sakit hebat secara spontan yang intermiten (sebentar) atau terus-menerus. Rasa sakit dapat disebabkan oleh perubahan suhu secara tiba-tiba yang berkepanjangan. Rasa sakit disebabkan oleh stimulasi dingin dapat dikurangi dengan panas, dan sama halnya, rasa sakit akibat panas dapat dikurangi dengan dingin. Bahkan mungkin terjadi respon yang menyakitkan untuk kedua rangsangan dingin dan panas juga. Rasa sakit juga bisa disebabkan oleh perubahan posisi tubuh. Rasa sakit mungkin terlokalisir atau referred (misalnya berasal dari molar mandibula ke arah telinga atau naik sampai ke daerah temporal).
3.                  Pada tahap lanjut, sedikit penebalan pada ligamen periodontal dapat terlihat melalui gambaran radiografi. Suatu pulpitis ireversibel simptomatik bisa didiagnosis melalui dental history, pemeriksaan visual, tes termal dan radiografi. Pulpitis ireversibel asimptomatik Pulpitis ireversibel jenis ini asimptomatik karena eksudat inflamasi dengan cepat keluar. Hal ini dapat berkembang melalui konversi dari yang bergejala menjadi keadaan tanpa gejala. Hal ini juga dapat disebabkan oleh iritasi pulpa (lesi karies) derajat rendah dan berkepanjangan, cedera traumatik. Ada tiga jenis pulpitis asimptomatik. Pulpitis hiperplastik Secara klinis, pertumbuhan jaringan pulpa yang berlebihan seperti kembang kol (cauliflower) berwarna kemerahan melalui dan di sekitar karies. Hal ini khas ditemukan pada remaja (usia muda) karena vaskularisasi pulpa yang baik. Resorpsi internal Keadaan ini adalah resorpsi dentin dari pulpa bagian luar, yang sering disebabkan oleh trauma atau pulp capping. Hal ini biasanya dapat didiagnosis melalui radiografi. Kalsifikasi saluran akar Sejumlah besar dentin reparatif menghasilkan deposit sepanjang sistem saluran akar yang disebabkan oleh perawatan periodontal, abrasi, trauma dll.
4.                  Nekrosis Kematian pulpa dapat berasal dari suatu pulpitis ireversibel yang tidak dirawat atau mungkin terjadi segera setelah cedera traumatik yang mengganggu suplai darah ke pulpa. Nekrosis mungkin terjadi secara parsial atau total, dan sebagian mungkin menunjukkan beberapa gejala pulpitis ireversibel. Kadang-kadang pada gigi anterior, mahkota akan menjadi gelap. Klasifikasi Kelainan Periapikal Periodontitis apikal akut - Keadaan ini menggambarkan inflamasi di sekitar apeks. - Gigi dengan periodontitis apikal akut peka terhadap perkusi. - Gigi mungkin karies. - Secara radiografi ligamentum periodontal apikal mungkin tampak sedikit melebar atau normal. Penyebab: - Perluasan penyakit pulpa ke dalam jaringan periapikal. - Prosedur endodontik seperti pengisian saluran akar melewati foramen apikal. - Trauma oklusal yang berasal dari restorasi yang ketinggian atau bruxism kronis. Abses apikal akut. - Keadaan ini menimbulkan rasa sakit, eksudat purulen di sekitar apeks. - Cepat timbul rasa sakit dan pembengkakan yang ringan sampai parah, dan rasa sakit terhadap perkusi, dan mungkin terjadi mobilitas.
5.                  Perbedaan abses apikal akut dari abses periodontal lateral dan dari abses phoenix Untuk abses periodontal Tes pulpa termal dan elektrik menunjukkan pulpa vital; terdapat poket periodontal; gigi mungkin normal. Untuk abses phoenix Semua gejala abses apikal akut ditambah radiolusensi di sekitar apeks gigi. Periodontitis apikal kronis - Periodontitis apikal kronis menunjukkan inflamasi asimptomatik yang lama di sekitar apeks. Meskipun periodontitis apikal kronis cenderung asimptomatik, mungkin terdapat sedikit nyeri berkala terhadap palpasi dan perkusi. - Hanya pemeriksaan biopsi dan mikroskop yang dapat mengungkapkan apakah lesi apikal ini merupakan dental granuloma, abses, atau kista. - Diagnosis dikonfirmasi dengan adanya radiolusensi yang mungkin difus atau berbatas jelas, tidak adanya vitalitas pulpa, dan saluran sinus (sinus tract). Abses phoenix Sebuah abses phoenix adalah periodontitis apikal kronis yang tiba-tiba menjadi simptomatik. Gejalanya identik dengan yang terjadi pada abses apikal akut, perbedaan utama bahwa abses phoenix didahului oleh kondisi kronis.
6.                  Osteosklerosis periapikal Osteosklerosis periapikal adalah mineralisasi tulang yang berlebihan di sekitar apeks yang disebabkan oleh inflamasi pulpa tingkat rendah, relatif asimptomatik, kronis yang paling sering ditemukan pada usia muda. Penyebab Meskipun banyak faktor yang dapat menyebabkan endodontitis yang selanjutnya berkembang menjadi periodontitis apikal, bakteri adalah salah satu penyebab yang paling umum. Faktor-faktor lain meliputi: Trauma Thermal Elektrik statis Laser Bahan pengisian Bahan adhesif atau etsa Obat untuk pembersihan saluran akar Aspek imunologis Rencana perawatan Apabila gigi telah dikonfirmasi mengalami pulpitis ireversibel atau kelainan apikal, perawatan endodontik harus dilakukan. Sebelum anda memutuskan untuk melakukan perawatan endodontik perlu anda pertimbangkan hal berikut: Evaluasi fisik
7.                  Hal ini terutama yang berkaitan tentang kondisi sistemik (penyakit) seperti penyakit jantung, gangguan perdarahan, diabetes, kanker, AIDS, kehamilan, alergi, terapi steroid, penyakit menular, dll. Evaluasi psikologis Seorang pasien yang menunjukkan tidak adanya dorongan (motivasi) untuk menjaga oral hygiene yang baik atau orang yang tidak dapat memenuhi jadwal perawatan, bukanlah calon pasien yang baik untuk terapi endodontik. Evaluasi gigi Morfologi Panjang tidak normal Bentuk tidak normal Jumlah (akar atau saluran akar) tidak normal Resorpsi Kalsifikasi Perawatan sebelumnya Penyumbatan saluran akar Birai Perforasi Lokasi gigi Aksesibilitas Jarak ke struktur lain Restorability Status periodontal
8.                  Bentuk saluran akar: apeks yang terbuka membutuhkan teknik penutupan apeks (apical closure) sebelum obturasi. Jarak ke struktur lain Foramen mentalis Sinus maksila Restorability Kerusakan ke arah furkasi mungkin membuat gigi tidak dapat dirawat 4. Rencana perawatan Urutan dan proses umum rencana perawatan Penanganan rasa sakit pulpa atau periodontal akut. Oral surgery untuk ekstraksi gigi yang tidak dapat dirawat. Kontrol lesi karies yang dalam yang mungkin merusak pulpa. Prosedur periodontal untuk penanganan jaringan lunak. Prosedur endodontik untuk gigi asimptomatik dengan pulpa nekrotik dan perawatan bedah atau re-treatment pada saluran akar yang gagal. Prosedur restoratif dan prostetik. Perawatan saluran akar satu kali kunjungan Apakah pulpitis atau apikal periodontitis? Apa yang kita ketahui sekarang? 


Kesehatan gigi

gigi dan mulut yang bermasalah dapat berakibat fatal bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Infeksi pada gigi atau gusi dapat menyebar ke dalam jaringan tubuh lain. Penyakit yang ditimbulkan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut, tapi juga kesehatan organ lain.

Hargai Kesehatan Gigi dan Mulut Sebagaimana Menghargai Diri Sendiri - Alodokter

Untuk memastikan gigi dan mulut tetap sehat, Anda perlu melakukan gaya hidup sehat terkait pola makan, dan disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter gigi secara teratur.ulut, Awal Kesehatan Seluruh Tubuh

Mulut, Awal Kesehatan Seluruh Tubuh

Mulut adalah gerbang menuju bagian dalam tubuh. Oleh karena itu, kesehatan gigi dan mulut dapat berpengaruh pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Di seluruh bagian tubuh manusia terdapat banyak bakteri yang sebagian besar tidak berbahaya, begitu pula di dalam mulut. Keadaan mulut dan gigi yang sehat dapat membantu mencegah bakteri berkembang secara berlebihan. Menggosok gigi dan menggunakan benang gigi secara teratur sangat mendukung terciptanya kondisi mulut yang sehat.
Keadaan mulut dan gigi yang tidak terawat memberikan bakteri di dalam mulut keleluasaan untuk berkembang biak, sehingga memungkinkan terjadinya penyakit gusi dan kerusakan gigi. Selain itu, efek samping obat-obatan, seperti antihistamin, pereda nyeri, dan dekongestan, dapat menyebabkan berkurangnya produksi air liur, yang turut berkontribusi terhadap perkembangbiakan bakteri. Air liur berguna dalam mencegah masuknya kuman yang berisiko menyebabkan penyakit, juga bertugas menyapu sisa-sisa makanan di dalam mulut dan menetralisasi zat asam yang diproduksi oleh bakteri. Apabila kebersihan dan kesehatannya tidak terjaga, mulut justru menjadi pintu gerbang masuknya berbagai kuman penyakit.

Kebiasaan yang Harus Dilakukan untuk Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Selain menggosok gigi, berkumur dengan obat kumur, dan membersihkan gigi menggunakan benang gigi, masih ada tindakan-tindakan pencegahan penting lainnya yang harus diperhatikan.
  • Periksakan diri ke dokter gigi secara teratur
    Periksakan gigi Anda ke dokter gigi setiap enam bulan sekali. Meskipun Anda tidak memiliki keluhan terhadap kesehatan gigi dan mulut, banyak keuntungan yang didapat dengan rutin memeriksakan gigi. Apabila ada kelainan pada gusi, kerusakan gigi, atau penyakit yang lebih serius, dokter dapat mendeteksinya lebih awal. Selain lebih mudah untuk diobati, biasanya biaya pengobatan untuk penyakit yang masih dalam tahap awal akan lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pengobatan untuk kondisi yang sudah berat.
  • Selalu menggunakan sikat gigi yang tepatPemilihan sikat gigi yang tepat juga memberi dampak kepada kesehatan gigi. Batas penggunaan sikat gigi Anda paling lama adalah tiga bulan. Meski begitu, satu hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi bulu pada sikat gigi. Jika bulu-bulunya sudah mekar, bahkan rontok, jangan digunakan lagi meski belum tiga bulan. Anda disarankan memilih sikat gigi dengan bulu yang lembut agar tidak melukai gusi.
    Cara menyikat gigi pun harus diperhatikan. Pegang sikat gigi dengan sudut 45 derajat mengarah ke gusi. Sikatlah gigi dengan gerakan pendek-pendek, tidak terlalu keras, dan lakukan dengan gerakan melingkar. Tidak perlu terlalu berlebihan saat menyikat gigi, cukup lakukan 10-15 kali sikatan per gigi. Lama menyikat gigi yang direkomendasikan adalah 2 menit.
  • Waspadaimakanan yang mengandung gulaBatasi konsumsi gula karena inilah sumber energi bagi bakteri, penyebab terbentuknya plak yang dapat merusak bagian enamel gigi dan gusi, sekaligus bahan untuk membentuk keasaman mulut. Semua itu dapat menyebabkan kerusakan pada gigi.
  • Berhenti merokokRokok turut berperan dalam pembentukan plak pada gigi. Merokok membuat mulut menjadi ruang berkembang biak yang sangat baik untuk bakteri. Dua zat di dalam rokok, yaitu nikotin dan tar, berpotensi menggerogoti gusi serta membuat gigi menjadi kuning dan kehitaman. Kerugian lainnya jika Anda merokok adalah risiko penurunan kualitas tulang yang menyokong gigi, sehingga gigi lebih mudah tanggal. Merokok juga meningkatkan risiko terkena kanker mulut, karena efek berbagai zat kimia yang terdapat pada rokok.
  • Hindari soda
    Asam fosfat dan asam sitrat adalah dua jenis asam yang digunakan untuk menambah rasa pada soda. Kedua zat tersebut dapat mengancam kesehatan gigi karena sifatnya yang dapat menggerogoti permukaan gigi. Di samping itu, minuman bersoda juga umumnya mengandung banyak gula.
  • Berlatih menggunakan benang gigi
    Anda dianjurkan untuk rutin menggunakan benang gigi (dental floss) untuk membantu menghilangkan plak dan mempertahankan kesehatan gigi. Seperti sikat gigi, penggunaan benang gigi pun harus dilakukan dengan cara yang benar. Caranya adalah coba lilitkan satu ujung benang di jari telunjuk tangan kanan dan lilitkan juga ujung satunya di jari telunjuk tangan kiri. Jepit kedua ujung benang dengan jari telunjuk dan ibu jari. Biarkan benang tetap tegang dan mulailah membersihkan sela gigi Anda satu per satu.
Menjaga kesehatan gigi dan mulut sebenarnya tidak sulit karena Anda dapat melakukannya sendiri di rumah. Yang terpenting adalah tetap konsisten dan menjadikannya sebagai bagian dari rutinitas Anda.

Gingivitis

Image result for gingivitis"

Apa itu gingivitis?

Gingivitis (radang gusi) adalah penyakit akibat infeksi bakteri yang menyebabkan gusi meradang hingga merah dan membengkak.
Penyebab utama kondisi ini adalah kebersihan mulut yang buruk. Orang yang jarang sikat gigi, sering makan makanan yang manis dan asam, tidak pernah rutin cek giginya ke dokter adalah yang paling berisiko mengalami gingivitis.
Banyak orang yang sering tidak tahu mereka punya penyakit ini karena gejalanya tidak begitu jelas. Namun, radang gusi tidak boleh dibiarkan berlarut tanpa pengobatan.
Masalah gusi ini dapat menyebabkan periodontitis, yaitu infeksi gusi serius yang sampai merusak jaringan tulang penyokong gigi. Periodontitis dapat menyebabkan gigi tanggal dan berbagai masalah serius lainnya.

Seberapa umum gingivitis?

Gingivitis adalah penyakit yang umum. Kondisi ini dapat dialami siapa saja tanpa memandang jenis kelamin. Namun, orang yang tidak menjaga kesehatan gigi dan mulutnya paling berisiko tinggi.
Anda dapat terhindar dari risiko penyakit ini dengan mencegah faktor risiko yang ada. Silakan konsultasi ke dokter gigi untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala gingivitis?

Gingivitis umumnya tidak langsung menyebabkan rasa sakit. Akibatnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya mengalami kondisi ini.
Meski begitu, ada beberapa tanda dan gejala dari penyakit radang gusi yang bisa Anda waspadai sejak dini. Di antaranya:
  • Gusi berwarna kemerahan, bengkak, dan terasa lunak ketika disentuh dengan lidah atau tangan.
  • Gusi turun atau menyusut.
  • Gusi kendur, bergeser, atau bahkan lepas.
  • Gusi mudah berdarah saat Anda menyikat gigi atau menggunakan benang gigi Kadang terlihat warna kemerahan pada bulu sikat atau benang gigi.
  • Perubahan warna gusi dari merah muda segar menjadi merah kehitaman.
  • Bau mulut yang tidak hilang-hilang, atau rasa tidak enak di mulut.
  • Nyeri intens dan tajam ketika membuka mulut untuk mengunyah, menggigit, atau bahkan berbicara.
Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas.
Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi langsung dengan dokter gigi.
Hanya dokter gigi yang dapat mengenali dan menentukan seberapa parah penyakit gusi yang Anda alami.

Kapan harus ke dokter?

Apabila Anda menyadari mengalami satu atau beberapa gejala gingivitis di atas, segera periksa ke dokter gigi. Ingat, gejala radang gusi sering kali tidak disadari.
Jadi, semakin cepat Anda berobat ke dokter, maka semakin besar pula peluang sembuhnya.
Tak hanya itu. Semakin cepat Anda berobat ke dokter gigi, Anda juga dapat menghindari risiko kerusakan gusi serius seperti periodontitis.
Biasanya dokter gigi merekomendasikan pemeriksaan rutin menyebabkan masalah yang lebih serius.

Penyebab

Apa penyebab gingivitis?

Penyebab utama dari gingivitis adalah penumpukkan plak. Plak sendiri merupakan lapisan lengket bakteri yang terbentuk dari endapan sisa-sisa makanan di permukaan gigi.
Plak yang dibiarkan terus-terusan menumpuk dalam jangka waktu lama akan mengeras membentuk karang gigi di bawah garis gusi. Nah, karang gigi inilah yang memicu peradangan pada gusi.
Seiring waktu, gusi Anda akan bengkak dan mudah berdarah. Karies gigi pun bisa saja terjadi. Jika tidak segera diobati, radang gusi dapat berkembang menjadi periodontitis yang menyebabkan gigi tanggal atau copot.

Faktor risiko

Apa saja yang meningkatkan risiko terkena gingivitis?

Ada banyak faktor risiko yang bisa membuat Anda mengalami radang gusi, di antaranya:

Riwayat genetik

American Academy of Periodontology mengatakan sebanyak 30 persen kasus penyakit gusi disebabkan oleh genetik.
Jadi, apabila kakek, nenek, kedua orangtua, dan saudara kandung Anda ada yang mengalami radang gusi, Anda berisiko tinggi untuk mengalaminya juga.
Orang dengan riwayat turunan radang gusi enam kali lebih berisiko mengalami berbagai bentuk dari penyakit gusi.

Usia

Semakin bertambah usia Anda, maka risiko mengalami radang gusi juga semakin besar.

Kebersihan gigi dan mulut yang buruk

Apabila Anda jarang sikat gigi, flossing gigi, dan periksa ke dokter gigi, Anda berisiko tinggi mengalami radang gusi.

Mulut kering

Mulut kering dapat memengaruhi kesehatan gusi, membuat gusi lebih rentan mengalami peradangan dan pembengkakan.

Tambalan gigi yang lepas atau rusak

Tambalan gigi yang rusak dapat meningkatkan risiko infeksi penyebab gingivitis serta melukai gigi lainnya.

Kekurangan asupan vitamin

Orang yang kekurangan vitamin C lebih mudah mengalami masalah gigi dan mulut, termasuk radang gusi.

Merokok

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan bahwa perokok dua kali lebih berisiko mengalami penyakit gusi ketimbang orang yang tidak merokok.

Perubahan hormon

Perubahan hormon yang dialami wanita selama kehamilan, menstruasi bulanan, dan menopause dapat meningkatkan sirkulasi darah ke gusi. Ini membuat gusi lebih mudah mengalami peradangan, bengkak, dan perdarahan.

Obat-obatan tertentu

Mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti pil KB, steroid, antikonvulsan (obat kejang), kemoterapi, obat pengencer darah, serta calcium channel blocker dapat meningkatkan risiko terkena radang gusi.

Kondisi medis tertentu

Orang yang punya riwayat kondisi medis tertentu, seperti diabetes, kanker, dan HIV/AIDS berisiko tinggi terkena radang gusi karena sistem kekebalan tubuhnya cenderung lemah. Akan sulit bagi tubuh mereka untuk melawan bakteri penyebab infeksi.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana mendiagnosis gingivitis?

Gingivitis dapat diagnosis dengan pemeriksaan oleh dokter gigi. Selama pemeriksaan, dokter gigi akan memeriksa gusi untuk melihat ada tidaknya peradangan sembari menanyakan riwayat kesehatan Anda secara menyeluruh.
Dokter juga akan mengukur kedalaman kantong gusi Anda. Kedalaman kantong gusi idealnya berkisar dari 1-3 milimeter. Bila diperlukan, dokter gigi juga dapat melakukan pemeriksaan rontgen untuk melihat ada tidaknya tulang gigi yang retak atau patah.

Apa saja pengobatan untuk gingivitis?

Beberapa pengobatan paling umum untuk mengatasi radang gusi di antaranya:

Menjaga kebersihan mulut

Dalam kasus ringan, penyakit gingivitis biasanya dapat diobati dengan lebih rajin menyikat gigi.
Gosoklah gigi Anda setidaknya dua kali sehari (pagi dan malam) dengan teknik yang tepat. 
Sikat gigi secara perlahan dengan gerakan melingkar dari atas ke bawah. Lakukan dengan cara yang sama untuk setiap bagian selama 20 detik.
Semua permukaan gigi harus disikat, tak ada yang boleh terlewat agar tidak ada sisa makanan yang menyangkut. Terakhir, bilas mulut Anda dengan berkumur-kumur pakai air bersih.
Memilih alatnya pun juga harus tepat. Gunakan sikat yang berbulu lembut dengan kepala berujung kecil agar dapat menjangkau bagian mulut terdalam. Pastikan juga ganggang sikat yang Anda gunakan nyaman ketika dipegang.
Sementara untuk pasta gigi pilih yang mengandung fluoride. Fluoride efektif untuk memperkuat dan melindungi gigi Anda dari kerusakan.
Supaya benar-benar bersih, jangan lupa untuk melakukan flossingFlossing adalah teknik membersihkan gigi menggunakan benang untuk menghilangkan sisa makanan yang tersangkut di sela gigi. Flossing minimal dua kali sehari setelah sikat gigi
Jika anda konsisten melakukan semua ini, gusi akan terlihat kembali sehat dalam beberapa hari atau minggu. Pertahankan kebiasaan sikat gigi dan flossiing sepanjang hidup Anda agar terhindar dari masalah mulut.

Obat-obatan tertentu

  • Obat pereda nyeri. Apabila rasa sakitnya amat intens sampai membuat Anda kesulitan mengunyah dan menggigit makanan, dokter dapat meresepkan obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan paracetamol. Kedua obat tersebut efektif untuk meredakan sensasi nyut-nyutan di sekitar gusi.
  • Obat kumur. Obat kumur antiseptik yang mengandung klorheksidin dapat digunakan untuk membantu melawan bakteri penyebab infeksi di dalam mulut. Gunakan obat kumur sesuai yang dianjurkan dokter. Pemakaian yang tidak tepat justru dapat memperburuk kondisi gusi Anda.
  • Obat antibiotik. Dokter juga mungkin akan meresepkan obat antibiotik untuk mencegah infeksi semakin parah. Antibiotik bekerja dengan cara menekan pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Minum antibiotik harus hati-hati. Salah-salah, kondisi Anda justru bertambah parah atau lama sembuhnya.

Prosedur pembersihan gigi

Dokter gigi juga mungkin merekomendasikan prosedur non-operasi untuk membersihkan gigi Anda agar tidak semakin mengiritasi gusi.
Berikut beberapa perawatan untuk membersihkan gigi yang dapat dilakukan dokter gigi:
  • Scaling gigi. Prosedur ini dilakukan menggunakan alat khusus bernama ultrasonic scaler untuk membersihkan plak dan karang gigi di bagian garis gusi. Scaling idealnya dilakukan setiap 6 bulan sekali. Namun, dalam kasus tertentu, seseorang membutuhkan pembersihan karang gigi yang lebih sering.
  • Root planing. Sama seperti scaling, prosedur ini juga dilakukan untuk membersihkan karang gigi. Bedanya, prosedur ini dilakukan pada pasien yang sudah terlanjur  memiliki kantong terkena penyakit gusi (periodontitis). Prosedur ini membantu menghaluskan akar gigi supaya gusi Anda dapat menempel erat kembali ke gigi.
  • Laser. Bila Anda ingin membersihkan plak dan karang gigi yang minim rasa sakit dan perdarahan, laser jadi solusi yang terbaik. Silakan konsultasi ke dokter gigi untuk informasi yang lebih lanjut.

Operasi

Dalam kasus serius, operasi flap dapat dilakukan untuk mengangkat plak dan karang gigi dari kantong gusi.
Dokter mungkin juga akan melakukan prosedur cangkok tulang dan jaringan jika kerusakan gigi yang Anda alami terlampau parah.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah gingivitis?

Cara terbaik untuk mencegah gingivitis adalah dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut. Saran ini tidak hanya berlaku untuk orang dewasa, tapi juga untuk anak-anak. Semakin dini terbiasa menjaga kebersihan gigi dan mulut akan semakin baik.
Berikut beberapa langkah mudah membiasakan diri menjaga kebersihan gigi dan mulut setiap hari.

Rajin sikat gigi

Penyebab utama gingivitis dan berbagai masalah gusi lainnya adalah plak yang terbentuk dari sisa makanan. Oleh sebab itu, Anda harus rutin menyikat gigi setiap hari. Para ahli menganjurkan setiap orang untuk menyikat gigi dua kali sehari, setiap pagi dan malam hari.
Jangan lupa, Anda juga harus melakukan flossing gigi. Flossing efektif untuk menghilangkan plak dan sisa makanan yang terselip di sela-sela antar gigi dan di bawah garis gusi.

Berhenti merokok

Rokok merupakan faktor risiko terbesar untuk gingivitis dan penyakit gusi. Bahkan para ahli mencatat bahwa orang yang merokok tujuh kali berisiko terkena penyakit gusi daripada yang bukan perokok.
Maka dari itu,mulai dari sekarang Anda harus berusaha untuk berhenti merokok. Selain mencegah radang gusi, berhenti merokok juga dapat meningkatkan kesehatan tubuh Anda secara menyeluruh.

Makan makanan yang bernutrisi

Nutrisi yang tepat dapat membantu sistem kekebalan tubuh Anda lebih efektif melawan bakteri penyebab gingivitis. Hindari mengonsumsi makanan dan minuman yang terlalu banyak gula.
Sebaiknya, perbanyaklah makan buah dan sayur serta makanan lainnya yang mengandung vitamin C dan E. Hal ini karena kedua jenis vitamin ini dapat membantu tubuh Anda dalam memperbaiki jaringan yang rusak.

Hindari stres

Faktanya, stres juga dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut Anda. Bila Anda stres, maka sistem kekebalan tubuh Anda akan lebih sulit untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Anda pun akan lebih rentan mengalami gingivitis dan penyakit gusi lainnya. 

Rutin periksa ke dokter gigi

Hal lain yang tak kalah penting untuk mencegah gingivitis adalah rutin periksa ke dokter gigi. Pemeriksaan secara berkala dapat memudahkan dokter memantau kesehatan gigi dan mulut Anda secara menyeluruh.
Apabila dokter sewaktu-waktu menemukan adanya masalah pada gusi maupun gigi Anda, ia akan lebih cepat untuk memberikan pengobatan yang sesuai.
Kunjungi dokter gigi secara rutin setiap 6-12 bulan sekali. Namun, jika ada faktor risiko tertentu yang membuat Anda lebih rentan terkena gingivitis, Anda mungkin harus lebih sering konsultasi.

Epidemiologi Karies Gigi



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Epidemiologi Karies gigi Masalah karies gigi masih mendapat perhatian karena sampai sekarang penyakit tersebut masih menduduki urutan tertinggi dalam masalah penyakit gigi dan mulut, yaitu penyakit tertinggi keenam yang dikeluhkan masyarakat Indonesia dan menempati urutan keempat penyakit termahal dalam pengobatan (Direktorat Kesehatan Gigi Departemen Kesehatan RI,1994).
 Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 dalam Depkes (2000) menunjukkan bahwa 65,7% penduduk Indonesia menderita karies gigi aktif atau kerusakan pada gigi yang belum di tangani.SKRT 1997 menunjukkan 63% penduduk Indonesia menderita karies gigi aktif atau belum ditangani. Rerata pengalaman karies perorangan, yang diukur dengan index DMF-T untuk Indonesia adalah 6,44 di mana 4,4 gigi sudah dicabut, 2 gigi belum ditangani dan hanya 0,16 gigi yang telah ditumpat atau ditambal. Data Susenas (1998) menyatakan bahwa 87% masyarakat yang mengeluh sakit gigi tidak berobat, sedangkan yang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan hanya 12,3 %.